Lazis Khoiru Ummah

Qurban Untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal, Bolehkah Dalam Syariat?

Penyesalan menjadi satu rasa yang muncul dalam diri seorang anak saat orang tuanya meninggal dunia. Terlebih jika memang dirinya belum sempat berbakti secara maksimal. Sebagai bakti sepeninggalannya, ada anak yang berniat qurban untuk orang tua yang sudah meninggal.

Niat seperti ini merupakan sebuah kebaikan. Pasalnya dari niat sudah menunjukkan kebaikan sang anak. Dan dalam hadits dijelaskan, bahwa salah satu penyambung amalan orang tua setelah meninggal adalah anak sholeh yang mendoakannya.

Namun, niat baik perlu dilakukan dengan cara yang baik. Islam mengajarkan pemeluknya beramal berdasarkan dalil. Jika Anda berniat berqurban yang semacam ini, tentu sebaiknya Anda mengetahui bagaimana syariat memandang niat berqurban untuk orang tua yang sudah meninggal.

Kewajiban Berqurban Bagi Muslim 

Kewajiban berkurban, Sumber: yatimmandiri.org
Kewajiban berkurban, Sumber: yatimmandiri.org

Qurban merupakan kewajiban bagi umat Islam yang memiliki kelapangan ekonomi. Sedangkan untuk muslim yang hidup dalam keterbatasan, para ulama berpendapat menunaikannya adalah sunnah. 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya,

Barangsiapa yang mempunyai kelapangan untuk berqurban tetapi tidak dilaksanakannya, janganlah dia dekat-dekat ke tempat shalat Kami di hari raya ini”. (HR Ibnu Majah)

Melalui hadits di atas, jelas perintah qurban diberikan kepada muslim yang masih hidup. Bukan diberikan kepada yang telah meninggal dunia. Dengan demikian, hukum berqurban untuk orang tua yang sudah meninggal tentu juga berbeda dengan yang masih hidup.

Selain dari hadits, perintah juga lebih tegas disebutkan oleh Allah di dalam Al-Quran. Adanya dalil dari sumber yang pasti benar membuat perintah tersebut memang sepantasnya diperjuangkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Kautsar ayat 2 yang artinya,

Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan sembelihlah (hewan qurban)”.

Dalam ayat di atas perintah qurban disandingkan dengan perintah shalat. Hal ini menegaskan kedudukan kedua amalan itu berarti hampir sama pentingnya. Saat masih hidup, sebaiknya seorang muslim melaksanakannya. 

Secara sekilas mungkin berqurban memberatkan disebabkan memerlukan banyak biaya. Namun, Allah telah menyediakan pahala dan ganjaran berlipat bagi yang mengupayakan ketaatan. Saat dilakukan dengan keikhlasan, bisa jadi dibalik beratnya qurban akan menjadi salah satu amalan melancarkan rezeki. 

Qurban Untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal

Qurban untuk orang tua yang sudah meninggal, Sumber: royalsnackbox.com
Qurban untuk orang tua yang sudah meninggal, Sumber: royalsnackbox.com

Berdasarkan kewajiban qurban di atas, qurban yang dilakukan untuk orang tua yang telah meninggal terbagi menjadi poin berikut:

1. Boleh

Kebolehan qurban untuk orang tua yang telah meninggal ini jika dalam dua keadaan, yaitu diikutkan pada yang berkurban dan karena adanya wasiat. 

Dalil dari qurban untuk orang tua yang telah meninggal dengan diikutkan pada yang berqurban adalah  dari perbuatan Rasulullah. 

Saat beliau melaksanakan qurban, beliau tidak menyebut ahlul baitnya secara khusus hanya yang masih hidup. Itu berarti yang telah meninggal pun juga akan mendapat keutamaan berqurban.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha beliau berkata yang artinya,

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta seekor domba bertanduk lalu dibawa untuk disembelih sebagai qurban. Lalu beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah bawakan pisau”. Kemudian beliau berkata, “Tajamkan (asahlah) dengan batu”. Lalu beliau melakukannya dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengambilnya dan mengambil domba. Lalu menidurkannya dan menyembelihnya dengan mengatakan, “Bismillah wahai Allah! Terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad”. Kemudian beliau menyembelihnya”. (HR Muslim)

Sedangkan berqurban untuk orang tua yang telah meninggal karena wasiat, hal ini merupakan penjelasan ayat Al-Quran tentang harusnya menjalankan wasiat. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 181 yang artinya,

Maka barangsiapa mengubah wasiat itu setelah dia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya bagi orang-orang yang telah mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Jika orang tua telah berwasiat sebelum meninggal dan wasiat itu kebaikan, anak harus melakukannya. Termasuk, jika orang tua memiliki niat yang belum tertunaikan. Ulama sepakat anak bisa menggantikan niat tersebut seperti dalam pelaksanaan haji atau bersedekah.

Namun, apa yang menjadi masalah adalah jika dalam pelaksanaan wasiat anak kesulitan melakukannya karena sebab tertentu. Jika terjadi hal demikian, maka dalam melaksanakan wasiat bisa memanfaatkan lembaga seperti Laziskhu. Dalam hal sosial keagamaan, keberadaannya cukup membantu dengan akses adanya akses yang dimiliki.

2. Tidak Boleh

Dari dalil terkait pelaksanaan qurban, tidak ada dalil yang mengkhususkan boleh melakukan qurban untuk orang tua yang telah meninggal. Dengan demikian sebaiknya seorang muslim tidak melakukan qurban khusus untuk orang tua yang telah meninggal.

Selain itu dengan melihat kehidupan Rasulullah, beliau juga tidak berqurban dengan mengkhususkan kepada keluarga yang telah meninggal. Beliau tidak berqurban khusus untuk istrinya, Khadijah Radhiyallahu ‘Anha. Maupun, untuk pamannya, Hamzah Radhiyallahu ‘Anhu.

Hakikatnya amalan berqurban memang diperintahkan untuk yang masih hidup. Dan sebagaimana hadits Rasulullah, saat telah meninggal dunia amalan seseorang akan terputus. Yang bisa menyambungkan amalannya hanyalah doa dari anak yang sholeh.

Dan jika ingin qurban untuk orang tua yang telah meninggal, maka melakukannya dengan cara yang diperbolehkan di atas. Meskipun, status hukum bagi yang melakukannya tidak jatuh sampai haram.

Maka, tidak mengherankan jika Ibnu Taimiyyah berkata yang artinya,

Diperbolehkan menyembelih bagi orang yang sudah meninggal sebagaimana diperbolehkannya haji dan sedekah untuk orang yang sudah meninggal. Menyembelihnya di rumah dan tidak disembelih kurban dan yang lainnya di kuburan”. (Majmu’ Al-Fatawa : 26/306)

Mari Berqurban Bersama Laziskhu

Laziskhu
Laziskhu

Melaksanakan ibadah qurban bisa dilakukan dimanapun, dengan catatan bukan tempat terlarang. Baik qurban yang dilakukan di masjid terdekat, maupun sekolah tetap akan menuntaskan kewajiban jika dilakukan sesuai aturan syariat.

Namun, jika Anda ingin qurban yang dilakukan lebih berkesan, Anda bisa mengikuti program qurban Laziskhu. Pasalnya, Laziskhu sering melaksanakan qurban di daerah muslim yang jarang melaksanakannya. Baik atas nama pribadi maupun wasiat orang tua, Lazishkhu bersedia membantu menyalurkannya.

Masih dijumpai berbagai daerah yang jarang melakukan ibadah qurban. Tentu hal mendasar yang menjadi penyebab adalah keterbatasan ekonomi, maupun sulitnya akses yang ditempuh.

Qurban bukanlah sekedar ibadah spiritual, namun qurban juga merupakan ibadah sosial. Menyalurkan pada yang lebih membutuhkan tentu akan memberi kemanfaatan yang lebih besar.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan setiap niat baik hambaNya. Serta memberikan keberkahan pada hidupnya dan pahala berlipat.